Minggu, 19 Juni 2016

Artikel Opini "Hilangnya Semangat Peserta Didik untuk Mengikuti Ibadah di Bulan Ramadhan"

Puasa Jadi Ajang Bermalas Ria Peserta Didik


Puasa Jadi Ajang Bermalas Ria Peserta Didik.” Apa yah kira-kira maksudnya? Puasa dan peserta didik?! Nah, kalau begitu saatnya....

Assalamualaikum Guru. Wah, sudah masuk bulan Ramadhan yah? Berarti saatnya Guru untuk mengingatkan kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan kepada peserta didiknya nih? Ingatkah Guru dengan peribahasa yang mengatakan “belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas air, belajar setelah dewasa bagai mengukir di atas batu.” Pastinya dong. Kemudian apa yah kira-kira hubungannya dengan puasa di bulan Ramadhan? Jawabannya ada di Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183 yang berbunyi “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.”
Bulan Ramadhan merupakan bulan suci yang dipenuhi dengan segala rahmat Allah S.W.T., aamiin ya Allah. Saat bulan Ramadhan tiba, setiap umat Islam diwajibkan untuk menunaikan rukun Islam yang ke-4, yaitu puasa. Puasa merupakan menahan diri dari makan, minum, hawa nafsu, dan hal-hal yang dapat membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari, atau sekitar 15 jam setiap harinya dalam waktu satu bulan penuh. Wah...., 15 jam selama 30 hari?! Lama dong....!!! Ahahaha...., lama bagi yang tidak terbiasa bukan? Jelas, bisa karena biasa.

Pertanyaannya, “bagaimanakah cermin berpuasa yang dilakukan para anak didik guru, mengingat terdapat alasan kuat yang mengatakan bahwa karena puasa badan jadi lemas sehingga mengundang rasa malas, terutama malas beribadah.”

Yah, rasa-rasanya memang tidak jarang peserta didik yang diam-diam menjalankan puasa setengah hari saja alias adzan beduk berkumandang siap santap. Sebenarnya wajar jika hal ini terjadi pada usia sekolah dasar. Kan, bisa karena biasa, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Puasa setengah hari, lama-lama sehari penuh. Namun rasanya tidak akan wajar jika terjadi pada generasi di usia sekolah menengah.

Pertanyaannya kembali, apa yang menyebabkan hal tersebut dapat terjadi?

Faktor seperti pada diri individu itu sendiri tentu menjadi faktor utama yang akan menggambarkan diri individu tersebut. Bahwa faktor diri yang membentuk individu itu tentu ia dapatkan, baik dari lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Diantara kedua faktor pembentuk tersebut, faktor dengan pengaruh yang lebih besar adalah faktor yang berasal dari lingkungan sekitarnya, terutama teman tempat bergaul. Nah, kalau yang satu ini, teman sendiri harus tahu nih. Sebagaimana dari Abu Musa Al-Asy’ariy RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Permisalan teman duduk yang shalih dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, bisa jadi ia akan memberimu minyak wangi, atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapat bau harum darinya. Adapun tukang pandai besi, bisa jadi ia akan membuat pakaianmu terbakar, atau kamu akan mendapat bau yang tidak sedap darinya.” (HR. Bukhari No. 2101, Muslim No. 2628).

Dengan demikian, maka bukan hanya tugas guru yang harus terus mengingatkan teman sebagai peserta didiknya, atau bahkan orang tua teman, namun peran teman sendiri sebagai bagian dari individu itu yang harus berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya agar menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi sesama. Suri tauladan kita, Nabi Muhammad SAW bersabda, bahwa “siapa yang hari ini sama seperti hari kemarin maka dia orang merugi. Siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dia orang yang beruntung. Maka siapa hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka dia orang yang terlaknat.” Ingat, masa depan ada di tanganmu sendiri. Jadi, lekas tentunya langkahmu mulai dari sekarang! Semoga bermanfaat dan wassalamualaikum.

Rabu, 01 Juni 2016

Artikel Opini "Tingkatkan Moralitas Generasi Penerus Bangsa dengan Kebermaknaan Tiap Pembelajaran Formal, Nonformal, dan Informal"

Yayasan Kilau Indonesia dalam Mencetus Generasi Bangsa
dengan Kebermaknaan Pendidikan

Yayasan Kilau Indonesia merupakan lembaga yang bergerak dalam bidang sosial dan kemanusiaan. Salah satu peran Yayasan Kilau Indonesia pada bidang kemanusiaan adalah dengan bergerak dalam dunia pendidikan. Bahwa kegiatan pendidikan yang digerakkan oleh Yayasan Kilau Indonesia merupakan kegiatan pendidikan berupa bimbel harian serta kegiatan tahfidz Qur’an. Dimana kegiatan bimbel tersebut merupakan kegiatan pendidikan gratis yang diberikan Yayasan Kilau Indonesia kepada para generasi penerus bangsa dengan latar belakang anak yatim dan dhuafa. Kendati demikian, ketika terdapat anak dengan latar belakang di luar arahan tersebut pun tetap akan diterima dengan baik. Adapun cakupan pelajaran dalam kegiatan bimbel ini hampir sama sebagaimana pada sekolah-sekolah formal dengan cakupan tingkatan dari mulai sekolah dasar hingga sekolah menengah. Sedangkan untuk kegiatan tahfidz Qur’an merupakan salah satu kegiatan dalam bidang pendidikan yang mencakup pembelajara mengenai Al-Qur’an, baik pembelajaran membaca Al-Qur’an, memahami arti yang terdapat dalam ayat suci Al-Qur’an, bahkan menghafal Al-Qur’an.
Bahwa tujuan Yayasan Kilau Indonesia dalam bergelut pada dunia pendidikan dengan dua cakupan, yaitu pendidikan umum dan pendidikan agama yang diberikan kepada generasi penerus bangsa, dimana hal ini dimaksudkan dalam rangka mencerdaskan kehidupan para generasi penerus bangsa dengan memiliki moralitas yang tinggi dalam kehidupannya. Dimana telah dipahami sebelumnya bahwa agama merupakan tiang pondasi manusia untuk dapat menjalankan kehidupannya dengan seimbang antara dunianya dan akhiratnya kelak. Konstribusi Yayasan Kilau Indonesia dalam dunia pendidikan telah dibuktikan dengan langkah nyata, yaitu salah satunya adalah dengan mengadakan wisuda tahfidz pertama pada 29 Mei 2016 dengan tema “Sambut Ramadhan, Tumbuhkan Generasi Pecinta Al-Qur’an. Dimana wisuda tersebut diikuti oleh dua belas anak binaan Yayasan Kilau Indonesia di kabupaten Indramayu yang berasal dari Rumah Ilmu dan Tahfidz Qur’an, Quantum Qur’ani dan Shelter Kandanghaur. Bahwa wisudawan dan wisudawati anak biaan Yayasan Kilau Indonesia tersebut telah berhasil menghafalkan satu juz dalam waktu empat bulan.
Dengan beraksi pada aksi yang nyata, hal ini dapat membuktikan konstribusi Yayasan Kilau Indonesia dalam mencetus generasi penerus bangsa dengan moralitas yang diharapkan, baik mereka berada dalam dunia pendidikan formal, informal, maupun nonformal bahkan berada pada lingkungan masyarakat luas.