Puasa Jadi Ajang Bermalas Ria
Peserta Didik
“Puasa Jadi Ajang Bermalas Ria Peserta Didik.” Apa yah kira-kira maksudnya? Puasa dan peserta didik?! Nah, kalau begitu saatnya....
Assalamualaikum Guru.
Wah, sudah masuk bulan Ramadhan yah? Berarti saatnya Guru untuk mengingatkan
kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan kepada peserta didiknya nih? Ingatkah Guru
dengan peribahasa yang mengatakan “belajar
di waktu kecil bagai mengukir di atas air, belajar setelah dewasa bagai
mengukir di atas batu.” Pastinya dong. Kemudian apa yah kira-kira
hubungannya dengan puasa di bulan Ramadhan? Jawabannya ada di Al-Qur’an surat
Al-Baqarah ayat 183 yang berbunyi “Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.”
Bulan Ramadhan
merupakan bulan suci yang dipenuhi dengan segala rahmat Allah S.W.T., aamiin ya
Allah. Saat bulan Ramadhan tiba, setiap umat Islam diwajibkan untuk menunaikan rukun
Islam yang ke-4, yaitu puasa. Puasa merupakan menahan diri dari makan, minum,
hawa nafsu, dan hal-hal yang dapat membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga
terbenamnya matahari, atau sekitar 15 jam setiap harinya dalam waktu satu bulan
penuh. Wah...., 15 jam selama 30 hari?! Lama dong....!!! Ahahaha...., lama bagi
yang tidak terbiasa bukan? Jelas, bisa karena biasa.
Pertanyaannya,
“bagaimanakah cermin berpuasa yang
dilakukan para anak didik guru, mengingat terdapat alasan kuat yang mengatakan
bahwa karena puasa badan jadi lemas sehingga mengundang rasa malas, terutama
malas beribadah.”
Yah, rasa-rasanya
memang tidak jarang peserta didik yang diam-diam menjalankan puasa setengah
hari saja alias adzan beduk berkumandang siap santap. Sebenarnya wajar jika hal
ini terjadi pada usia sekolah dasar. Kan, bisa karena biasa, sedikit demi
sedikit lama-lama menjadi bukit. Puasa setengah hari, lama-lama sehari penuh.
Namun rasanya tidak akan wajar jika terjadi pada generasi di usia sekolah
menengah.
Pertanyaannya
kembali, apa yang menyebabkan hal tersebut dapat terjadi?
Faktor seperti pada
diri individu itu sendiri tentu menjadi faktor utama yang akan menggambarkan
diri individu tersebut. Bahwa faktor diri yang membentuk individu itu tentu ia
dapatkan, baik dari lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Diantara
kedua faktor pembentuk tersebut, faktor dengan pengaruh yang lebih besar adalah
faktor yang berasal dari lingkungan sekitarnya, terutama teman tempat bergaul. Nah,
kalau yang satu ini, teman sendiri harus tahu nih. Sebagaimana dari Abu Musa
Al-Asy’ariy RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Permisalan teman duduk yang shalih dan buruk adalah seperti penjual
minyak wangi dan tukang pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, bisa jadi ia
akan memberimu minyak wangi, atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan
mendapat bau harum darinya. Adapun tukang pandai besi, bisa jadi ia akan
membuat pakaianmu terbakar, atau kamu akan mendapat bau yang tidak sedap
darinya.” (HR. Bukhari No. 2101, Muslim No. 2628).
Dengan demikian, maka
bukan hanya tugas guru yang harus terus mengingatkan teman sebagai peserta
didiknya, atau bahkan orang tua teman, namun peran teman sendiri sebagai bagian
dari individu itu yang harus berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya agar
menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi sesama. Suri tauladan kita, Nabi
Muhammad SAW bersabda, bahwa “siapa yang
hari ini sama seperti hari kemarin maka dia orang merugi. Siapa hari ini lebih
baik dari hari kemarin maka dia orang yang beruntung. Maka siapa hari ini lebih
buruk dari hari kemarin maka dia orang yang terlaknat.” Ingat, masa depan
ada di tanganmu sendiri. Jadi, lekas tentunya langkahmu mulai dari sekarang! Semoga
bermanfaat dan wassalamualaikum.