Rabu, 25 Mei 2016

Artikel Opini "Menjadi Mahasiswa Kekinian dengan Aktif Menulis Karya dalam Blog"

Blog-Mahasiswa-Karya

Media sosial merupakan suatu media yang berisi sebuah situs dimana setiap orang bisa membuat web page pibadi yang kemudian terhubung dengan semua orang di luaran sana untuk saling berbagi informasidan berkomunikasi secara bebas tanpa batas. Media sosial ini merupakan media online yang mendukung seseorang untuk dapat berinteraksi menggunakan internet melalui situs-situs berbasis web.Salah satu media sosial yang kini banyak digandrungi kalangan remaja, khususnya mahasiswa adalah media sosial berupa blog. Blog merupakan bentuk aplikasi web yang berbentuk tulisan-tulisan yang dimuat sebagai postingan pada sebuah halaman web. Dimana situs web ini dapat diakses oleh semua pengguna internet sesuai dengn topik dan tujuan dari isi yang diposting oleh pengguna blog tersebut.
Eksistensi perkembangan para pengguna blog atau lebih akrab disapa dengan sebutan blogger tidak hanya sebatas pada postingan semata. Namun dengan semakin majunya perkembangan zaman pada dunia maya, pemanfaatan blog telah digunakan oleh kalangan mahasiswa sebagai salah satu bentuk apresiasi dalam berkarya. Dimana pemanfaatan blog tersebut tidak hanya pada inisiatif kalangan mahasiswa secara pribadi, namun pemanfaatan blog telah merambah pada proses kegiatan perkuliahan yang dilakukan oleh dosen dengan pemanfaatkan blog sebagai sarana belajar mahasiswanya dengan menjadikan blog masuk ke dalam salah satu tugas yang harus ditempuh oleh para mahasiswa dalam suatu mata perkuliahan. Adapun pemanfaatan blog oleh dosen sebagaimana yang telah dilakukan oleh Ade Kusnan Affandi, M.Pd., dosen Universitas Wiralodra Indramayu FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia mata kuliah Penulisan Editorial dan Opini semester VIII. Bahwa mata perkuliahan yang diampu oleh beliau, beliau memberikan tugas kepada setiap mahasiswanya untuk dapat membuat sebuah blog, yang dimana blog tersebut setiap minggunya harus diisi dengan postingan opini-opini publik mengenai pokok bahasan tertentu. Tidak hanya itu, memalui blog setiap mahasiswa diharuskan untuk memposting apapun yang menjadi bahan tulisannya yang kemudian dapat mahasiswa kirimkan keberbagai media cetak untuk dapat diterbitkan.
Dengan adanya pemanfaatan media sosial blog bagi mahasiswa, maka secara tidak langsung mahasiswa akan dituntut untuk dapat mengenal lebih dalam mengenai apa itu sebuah situs web berupa blog yang secara tidak disadari akan menumbuhkan kreativitas mahasiswa untuk dapat mengolah kemampuannya dalam dunia maya dengan memanfaatkan sebaik-baiknya dalam menciptakan sebuah karya.

Rabu, 18 Mei 2016

Artikel Opini "Pendidikan tak Sejajar dengan Moral"

Pendidikan = Moral

Ingatkah anda dengan apa yang disampaikan oleh Mario Teguh yang mengatakan bahwa “memang pendidikan tidak menjamin kebaikan hidup, tapi pendidikan yang rendah adalah tanda yang sama pada semua kehidupan yang lemah di dunia”.
Bahwasannya pada hakikatnya pendidikan merupakan pembelajaran, pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan yang melekat pada diri setiap individu. Dimana pendidikan dapat dikatakan sebagai wadah bagi setiap generasi penerus untuk menambah wawasan dan pengalaman dalam ranah kegiatan formal sebagaimana yang dicanangkan oleh pemerintah. Baik disadari maupun tidak, bahwa pendidikan juga merupakan langkah awal para generasi penerus sebagai perrsiapan untuk melangkah menuju ke dalam kehidupan yang sebenarnya di masyarakat.
Berlanjut dengan apa yang dimaksud dengan moral bahwa moral merupakan bagian dari cerminan yang digambarkan melalui perilaku para peserta didik dalam lingkup kehidupannya. Moral mengarah kepada individu yang memiliki nilai positif yang dapat dijadikan sebagai hal mutlak yang harus dimiliki oleh setiap individu. Oleh karena moral langsung mengarah kepada cermin setiap individu, maka moral secara eksplisit dapat berhubungan dengan proses sosialisasi setiap individu dengan individu lainnya.
Pentingnya kaitan antara pendidikan dengan moral yang terjadi pada generasi penerus sekarang seperti mencerminkan sesuatu yang tidak semestinya terjadi. Hal tersebut dapat kita lihat dari maraknya ritual aksi mencoret-coret baju seragam pada saat hari kelulusan tiba. Terlihat biasa, namun aksi tersebut dapat dikatakan sebagai cermin sederhana para generasi penerus untuk melakukan hal-hal yang lebih besar dari itu. Bagaimana tidak, seragam yang menjadi salah satu kebanggaan dapat dengan mudah dikotori dengan penuh kebanggaan begitu saja. Tidak hanya aksi pencoretan semata saja, namun yang terjadi adalah aksi bak layaknya kumpulan orang berseragam yang tengah melakukan pawai bersama menelusuri jalan dengan menunjukkan lukisan-lukisan di seragamnya itu.
Sebagaimana contoh kecil di atas dan mengingat pula pentingnya kaitan antara pendidikan dengan moral, maka pertanyaan besarnya adalah “apakah pendidikan dapat dikatakan tak sejajar dengan moral?”.

Selasa, 10 Mei 2016

Artikel Opini "Orang Indonesia Sekolah untuk Bermanfaat atau untuk Uang"


Paradigma Sekolah Bagi Orang Indonesia

Bagaimanakah paradigma sekolah bagi orang Indonesia? Mungkinkah sekolah ditempuh hanya untuk mendapatkan suatu pekerjaan yang pada akhirnya hanya akan menghasilkan pundi-pundi rupiah? Yah, demikian pertanyaan yang kerap terlintas dalam benak kita, baik secara disadari maupun tidak. Lantas, apa jawaban yang hendak kita rangkai agar dua pertanyaan itu bisa kita jawab dengan jawaban yang mendekati ketepatan? Jelas, jawabannya ada pada hati kita masing-masing. Ingatkah anda dengan kata-kata inspirasi dari Deddy Corbuzier yang mengatakan, “bekerjalah dengan hati, bukan karena uang”.

Bahwasannya sekolah merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan seseorang. Dimana setiap orang berhak mendapat dan berharap untuk selalu berkembang dalam pendidikan dengan bersekolah. Karena dengan bersekolah, setiap orang akan memperoleh suatu pendidikan yang dapat dijadikan sebagai bekal dalam kehidupannya dengan mengembangkan dirinya untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupannya. Sebagaimana diketahui bahwa sekolah merupakan lembaga formal yang berwenang dalam tugas mendidik dengan peranan yang sangat besar, salah satunya yaitu sebagai kegiatan saling bertukar pikiran diantara peserta didik. Berkaitan dengan pendidikan formal tersebut, maka jenjang sekolah yang secara umum dilalui oleh setiap orang merupakan jenjang sekolah yang diawali dengan jenjang pendidikan sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sampai sekolah menengah atas. Tidak hanya itu, kini orang-orang telah menyadari pentingnya arti sebuah sekolah, sehingga tidak sedikit orang yang melanjutkan pendidikannya hingga jenjang perguruan tinggi. Bahkan pada perkembangannya, sebelum anak memasuki jenjang pendidikan sekolah dasar, para orang tua telah antusias untuk memasukkan anaknya ke sekolah PAUD bahkan TK.
Bertolak dari berbagai pemikiran di atas, bahwa tidak menutup kemungkinan seseorang selain bersekolah untuk kepentingan yang bermanfaat baik bagi dirinya maupun bagi orang lain, tetapi secara tidak disadari sekolah yang telah ditempuh akan membawa mereka pada suatu pekerjaan yang akan mendatangkan rupiah. Dan pertanyaan terakhirnya adalah kembali pada apa yang disampaikan oleh Deddy Corbuzier, “bekerjalah dengan hati, bukan karena uang”.