Selasa, 19 April 2016

Proposal Skripsi

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MEDIA GAMBAR BERGERAK
DI KELAS X SMA NEGERI 1 KROYA TAHUN PELAJARAN 2016/2017

PROPOSAL SKRIPSI
diajukan sebagai persyaratan mengikuti seminar proposal skripsi



 













oleh
SANITI
882020112083


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN  DAN  ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS WIRALODRA
INDRAMAYU
2016


A.      Pembelajaran Menulis Puisi dengan Media Gambar Bergerak di Kelas X SMA Negeri 1 Kroya Tahun Pelajaran 2016/2017

B.       Latar Belakang Masalah
Mata pelajaran Bahasa Indonesia memiliki peranan sangat penting dalam pendidikan, karena mata pelajaran bahasa Indonesia tidak hanya mempelajari materi tentang kebahasaan, tetapi juga mempelajari tentang kesusastraan. Kedua materi tersebut harus dilaksanakan dengan baik dan seimbang. Di dalam Kurikulum 2006 dijelaskan bahwa ruang lingkup pembelajran bahasa Indonesia di SMA mencakup kompenen kamampuan berbahasa dan bersastra yaitu melalui aspek-aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek tersebut merupakan perwujudan dari standar kompetensi dalam mata pelajaran bahasa Indonesia yang diberikan kepada siswa dengan tujuan agar siswa dapat berkomunikasi dengan bahasa yang baik dan benar secara lisan maupun tulisan.
Menulis puisi merupakan salah satu keterampilan bidang apresiasi sastra yang harus dikuasai oleh siswa SMA. Dalam kurikulum 2006 mata pelajaran bahasa Indonesia bahwa materi menulis puisi terdapat di kelas X dengan standar kompetensi (SK) yaitu mengungkapkan pikiran dan perasaan  melalui kegiatan menulis  puisi. Alwasilah dan Alwasilah (2013: 31) menyatakan selama ini ada kesan bahwa menulis puisi sulit, sehingga banyak guru yang hanya mengajarkan apresiasi, tapi tidak menulis puisi. Meskipun menulis puisi meruapakan salah satu cara dalam mengapresiasi sebuah karya sastra. Hal tersebut dinyatakan pula oleh Ismawati (2013: 2) bahwa tingkat mereproduksi ditandai dengan sikap mulai ikut menghasilkan cipta sastra, baik secara profesional maupun amatiran misalnya dapat menulis puisi, cerpen, novel, drama, dan seterusnya, dan dipublikasikan secara regional, nasional, atau bahkan dunia; dengan menerjemahkan karya sasta ke berbagai bahasa seperti karya-karya Ahmad ohari, WS Rendra, YB Mangun Wijaya, Chairil Anwar, dan seterusnya, yang diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Hal ini pun sesuai dengan pendapat Utamai dalam Kartini (2011: 2) bahwa salah satu materi pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang dianggap sulit oleh siswa adalah puisi, mulai dari menganalisa puisi, memaknai puisi, membaca puisi, hingga menulis puisi.
Berdasarkan apa yang telah disampaikan di atas mengenai pembelajaran menulis puisi yang masih sulit dirasakan oleh siswa, maka peneliti dalam hal ini bermaksud akan menggunakan suatu media pembelajaran untuk membantu meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis puisi. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Arsyad (2014: 19) bahwa dalam suatu proses belajar mengajar terdapat dua unsur yang sangat penting, yaitu metode mengajar dan media pembelajaran. Dimana kedua aspek tersebut saling berkaitan satu sama lain. Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut memengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru. Hal demikian pun dikemukakan oleh Hamalik, 1986 (dalam Arsyad, 2014: 19) bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa.
Dengan bertolak dari paparan tersebut, peneliti bermaksud menggunakan media gambar bergerak sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis puisi. Bahwa media gambar bergerak merupakan salah satu kategori media audio visual. Sebagaimana apa yang disampaikan oleh Arsyad (2014: 32), dikatakan media audio visual karena media gambar bergerak tersebut meruapakan media yang cara penyampaiannya menggunakan bantuan mesin-mesin mekanis dan elektronik, yaitu menggunakan laptop dan OHP. Dinyatakan sebagai audio, dimana media gambar bergerak tersebut berisi berupa efek suara dari gambar yang diputarkan. Kemudian dinyatakan sebagai visual, dimana media gambar bergerak tersebut berupa sebuah video. Dengan menggabungkan keduanya, maka diharapkan akan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis puisi.

C.      Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan tersebut, terdapat beberapa masalah yang dapat diidentifikasi, diantaranya sebagai berikut:
1.    Ketidaktepatan guru galam memilih media pembelajaran yang digunakan sebagai pendekatan yang masih bertumpu pada pengetahuan, sehingga ceramah masih menjadi pilihan utama dalam pembelajaran tersebut.
2.   Permasalahan siswa dapat dibantu melalui media pembelajaran baru yang digunakan dalam pembelajaran menulis puisi.
3.        Pembelajaran menulis puisi masih membosankan bagi siswa.

D.      Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, maka peneliti membatasi masalah yang akan dianalisis, batasan masalah masalah yang telah dibatasi yaitu sebagai berikut.
1.        Pembelajaran menulis puisi di kelas X SMA Negeri 1 Kroya.
2.        Media yang digunakan dalam pembelajaran menulis puisi adalah media gambar bergerak.
3.    Pembelajaran menulis puisi dengan media gambar bergerak di kelas X SMA Negeri 1 Kroya Tahun Pelajaran 20116/2017.

E.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maslah yang telah diuraikan, masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut.
1.   Bagaimana kemampuan manulis puisi siswa kelas X SMA Negeri 1 Kroya tahun pelajaran 2016/2017 sebelum pembelajaran dengan media gambar bergerak?
2.   Bagaimana kemampuan manulis puisi siswa kelas X SMA Negeri 1 Kroya tahun pelajaran 2016/2017 sesudah pembelajaran dengan media gambar bergerak?
3.      Apakah media gambar bergerak efektif dalam pembelajaran menulis puisi di kelas X SMA Negeri 1 Kroya tahun pelajaran 2016/2017?

F.       Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui;
1.    kemampuan menulis puisi siswa kelas X SMA Negeri 1 Kroya tahun pelajaran 2016/2017 sebelum pembelajaran dengan media gambar bergerak;
2.     kemampuan menulis puisi siswa kelas X SMA Negeri 1 Kroya tahun pelajaran 2016/2017 sesudah pembelajaran dengan media gambar bergerak; dan
3.        efektivitas media gambar bergerak dalam pembelajaran menulis puisi di kelas X SMA Negeri 1 Kroya tahun pelajaran 2016/2017.

G.      Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik secara teoritis maupun praktis. Adapun manfaatnya sebagai berikut.
1.        Manfaat secara Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai pedoman dalam upaya meningkatkan pengajaran sastra, khususnya pengajaran sastra dalam menulis puisi dengan media gambar bergerak serta sebagai pengembangan materi pada mata pelajaran bahasa Indonesia.

2.        Manfaat secara Praktis
Hasil penelitian ini secara praktis diharapkan bermanfaat meningkatkan kualitas belajar siswa dan memberikan masukan terhadap pemecahan masalah yang berkaitan dengan menulis puisi. Manfaat secara praktis ini dapat diuraikan sebagai berikut.
a.         Manfaat Bagi Siswa
Penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan belajar siswa serta menumbuhkan motivasi dan kreativitas dalam belajar menulis puisi.
b.        Manfaat Bagi Guru
Penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan profesionalisme guru dalam memilih alternatif bahan ajar menulis puisi, yaitu dengan media gambar bergerak.
3.        Manfaat Bagi Peneliti
Penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti dalam bidang pendidikan khsususnya bahasa dan sastra Indonesia pada pembelajaran menulis puisi.

H.      Definisi Operasional
Agar tidak terjadi salah penafsiran terhadap judul skripsi ini, peneliti akan menguraikan definisi beberapa istilah yang ada dalam penelitian ini. Definisi-definisi tersebut sebagai berikut.
1.        Kemampuan Menulis Puisi
Kemampuan menulis puisi berarti kemampuasn siswa dalam menulis sebuah puisi. Kemampuan siswa tersebut, berarti suatu kemampuan yang dapat diketahui perkembangannya. Kemampuan tersebut dapat dilihat dari hasil puisi yang telah ditulis oleh siswa sebelum dan sesudah diberikan suatu perlakuan, yang dalam hal ini perlakuan tersebut yaitu penggunaan suatu media pembelajaran. Bahwa kamampuan menulis siswa tersebut dapat diukur dari beberapa aspek penilaian yang telah ditetapkan.

2.        Pembelajaran Menulis Puisi
Pembelajaran menulis puisi meruapakan suatu pembelajaran yang mengajarkan kepada siswa untuk dapat menulis sebuah puisi yang disesuai dengan karakteristik puisi.

3.        Media Gambar Bergerak
Media gambar bergerak merupakan salah satu jenis media audio visual. Media audio visual diam merupakan media yang penyampaian pesannya dapat diterima oleh indera pendengaran dan indera penglihatan, akan tetapi gambar yang dihasilkannya adalah gambar diam atau sedikit memiliki unsur gerak.

4.        Efektivitas Media Gambar Bergerak
Menulis puisi merupakan suatu kemampuan yang hendaknya dimiliki oleh siswa sebagai salah satu pembelajaran dalam mengapresiasi sastra dalam proses memproduksi suatu karya sastra. Melalui media gambar bergerak ini diharapkan dapat memacu semangat siswa dalam menulis puisi.

 I.         Landasan Teoritis
1.        Pembelajaran Menulis dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
Pembelajaran pada suatu mata pelajaran tidak dapat dilepaskan dari keterkaitannya dengan kurikulum dan prinsip-prinsip pengembangannya satu sisi pembelajaran dipandang sebagai pengembangan pengetahuan dan keterampilan saat individu menjalani pembelajaran berinteraksi dengan lingkungan pembelajaran. Sisi lain kurikulum dipandang sebagai jalur untuk mengambangkan pengetahuan dan keterampilan individu tersebut.
Berdasarkan pasal 1 ayat 11 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasiona menyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, bahan, dan isi pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pembelajaran untuk menggapai tujuan pendidikan.
Berbicara tentang pendidikan, saat ini pendidikan di Indonesia telah menggunakan dua kurikulum, yakni Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013. Hal ini didasarkan pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 160 Tahun 2014 Tentang Pemberlakuan Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013. Permendikbud tersebut menyatakan bahwa sekolah mulai dari jenjang SD hingga SMA yang sudah melaksanakan Kurikulum 2013 pada semester ganjil tahun pelajaran 2014/2015 harus kembali pada Kurikulum 2006 pada semester genap sampai ada ketetapan dari kementrian untuk melaksanakan Kurikulum 2013. Batas pelaksanaan Kurikulum 2006 ini hingga 2019/2020.

2.        Pembelajaran Menulis Puisi sebagai Pembelajaran Sastra
Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani “pocima” yang berarti “membuat” atau “pocisis yang berarti “pembuatan”, dan dalam bahasa Inggris disebut “poem atau “poetry”. Puisi diartikan “membuat” dan “pembuatan” karena melalui puisi pada dasarnya seseorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah. Dengan mengutip pendapat McCaulay, Hudson (dalam Aminuddin, 2013: 134) mengungkapkan bahwa puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya. Tetapi pada kenyataan yang dihadapi bahwa banyak pendidik yang tidak menyadari bahwa pelajaran sastra menyangkut banyak hal. Sastra bukan hanya sekadar materi pelajaran yang menjadi bagian dari pelajaran bahasa. Sastra mempunya pengertian: (1) ssastra sebagai sarana apresiasi, (2) sastra sebagai sarana rekreasi, (3) sastra sebagai acuan intelektual, (4) sastra sebagai seni bahasa, (5) sastra sebagai sumber kajian perkembangan bahasa (Toha dan Sarumpet, 2002: 168).
Bahwa puisi termasuk salah satu genre sastra yang berisi ungkapan perasaan penyair yang mengandung rima dan irama, sera diungkapkan dengna pilihan kata yang cermat dan tepat. Puisi juga dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk seni tertulis. Di dalam puisi, bahasa yang digunakan ditata dengna sedemikian rupa untuk meningkatkan kualitas estetiknya. Penekanan pada segi estetiks uatu bahasa, penggunaan pengulangan yang disengajar, sert apemakaian rima-rima tertentu adalah beberapa hal yang membedakan puisi dari karya sastra yang lain, misalnya naskah drama dan prosa. Beberapa ahli sastra modern mencoba mendekati puisi dengna car ayang berbeda, dan mendefinisikan puisi sebagai perwujudan immajinasi manusia yang menjadi sumber segala kreativitas. Selain itu, puisi juga dinggap sebagai curahan isi hari seseroang (penyair). Curahan tesebut akan dapat membawa orang lain (pembaca) menelusuri kedalaman keadaan hatinya.

3.        Tujuan Pembelajran Sastra
Sastra sebagai pelajaran di sekolah merupakan materi yang memiliki peranan penting untuk memicu kreativitas siswa. Oleh karena itu, sastra mampu memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap pengembangan kepribadian dan kreativitas siswa. Secara mekanisme, pembelajaran sastra di sekolah dapat mencapai tiga pokok kemampuan belajar, yaitu pada kemampuan afektif, kemampuan kognitif, dan kemampuan psikomotorik. Kemampuan afektif adalah kemampuan dasar manusia yang berkaitan dengan emosional seseorang. Kemampuan kognitif adalah kemampuan yang dimiliki oleh manusia berdasarkan pikiran. Kemampuan psikomotorik adalah kemampuan mengatur sisi kejiwaan untuk bertahan terhadap berbagai persoalan. Ketiga kemampuan tersebut secara serempak dapat ditemukan dalam pembelajaran sastra. Melalui pembelajaran sastra tersebut diharapkan dapat terselesaikan permasalahan-permasalahan yang selama ini terpendam. Banyak faktor yang menjadi pemicunya, misalnya guru kurang terampil mengontekstualisasikan materi pelajaran, kurangnya minat belajar siswa, atau faktor lingkungan yang tak pernah mengenal dunia sastra.

4.        Manfaat Pembelajaran Sastra
Salah satu manfaat pembelajaran sastra adalah untuk meningkatkan daya kreativitas individu. Bahwa dengan bersastra individu akan dapat mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan yang dalam hal ini melalui sebuah puisi menggunakan bahasa tulis. Dan dengan bersastra pula maka diharapkan dapat mengenalkan diri individu tersebut kepada banyak orang tentang jati dirinya sendiri. Serta dapat meningkatkan kepercayaan diri lebih baik.

5.        Menulis Puisi
Sebagai sebuah genre, puisi berbeda dari novel, drama atau cerita pendek. Perbedaannya terletak pada kepadatan komposisi dengan konvensi yang ketat, sehingga puisi tidak memberi ruang gerak yang longgar kepada penyair dalam berkreasi secara bebas. Perrine, 1974: 559 (dalam Siswantoro, 2010: 23) menyatakan bahwa wajar jika puisi dikatakan sebagai the most condensed and concentrated form of litarature, yang maksudnya adalah puisi merupakan bentuk sastra yang paling padat dan terkonsentrasi. Kepadatan komposisi tersebut ditandai dengan pemakaian sedikit kata, namun mengungkapkan lebih banyak hal. Hanya saja bahasa puisi memiliki ciri tersendiri yakni kemampuannya mengungkapkan lebih intensif dan lebih banyak ketimbang kemampuan yang dimiliki oleh bahasa biasa yang cenderung bersifa informatif praktis. Oleh sebab itu, pesan yang disampaikan bersifat jelas dan tidak mengandung dimensi ambigu.
Dalam pembelajaran menulis puisi, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya:
1)        Karakteristik Puisi
(a)      Diksi
Salah satu pembelajaran menulis puisi adalah dengan pemilihan diksi (kata) yang dianggap tepat. Dimana kreativitas menulis puisi adalah kreativitas memilih diksi karena kekuatan puisi terletak pada kata-katanya (diksi), bagaimana kata-kata yang singkat, pendek, dan sederhana, tetapi bisa menggambarkan pengalaman, perasaan, imajinasi, dan keindahan yang banyak. Oeh karenanya, diksi dalam puisi harus sekonsentrat mungkin, yaitu padat dan selalu meninbulkan makna lebih (surplus meaning). Dalam hal penggunaan diksi ini, ada dua jenis puisi yang bisa diidentifikasi, yaitu (1) puisi profan, yaitu puisi-puisi yang diksi-diksinya menggunakan bahasa sehari-hari, namun sekalipun menggunakan diksi bahasa sehari-hari, puisi ini tetap memiliki makna yang mendalam; (2) puisi prismatis, yaitu puisi-puisi yang menggunakan diksi-diksi metaforis (word metaphor) yang perlu perenungan intens untuk memahami maknanya. Anggapan puisi yang baik adalah puisi yang prismatis diksi-diksinya tidak selamanya benar, karena selain aspek diksi, puisi memiliki berbagai karakteristik yang harus dipenuhi, ditambah penilaian baik dan tidak itu subjektif, tetapi dengan dua tipe puisi dari aspek diksinya, kita bisa memilih dan mengambangkan kretivitas menulis puisi sesuai dengna minat dan kecocokan ktia masing-masing.

(b)     Kalimat
Untuk aspek diksi, yang bisa diidentifikasi adalah ketidakbiasaan diksi yang digunakan dalam bahasa puisi. Namun, ketidakfamiliaran diksi ini terlihat konkret dari aspek sintaktisnya, baik dalam frase maupun klausa. Ciri khas dari aspek kalimat puisi adalah ritmik-semantik, yaitu kalimat dalam puisi selalu menekankan pada aspek ritmik (bunyi) dan semantik (makna). Karena penekanan dua aspek ini maka kalimat dalam puisi biasanya tidak logis dan tidak formal. Dalam tradisi formalisme inilah yang disebut bahwa kalimat dalam puisi bersifat defamiliar (tidak akrab) sebagaimana bahasa sehari-hari.

(c)      Baris
Istilah baris atau larik dalam puisi pada dasarnya sama dengan istilah kalimat dalam karya prosa. Hanya saja, sesuai dengan hak kepengarangannya yang diistilahkan dengan licentia poetica, maka wujud, ciri-ciri, dan peranan larik dalam puisi tidak begitu saja disamakan secara menyeluruh dengan kalimat dalam karya prosa. Hal itu dapat dimaklumi karena bila kalimat dalam karya prosa secara jelas diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan titik, hal yang demikian tidak selamanya dijumpai dalam puisi. Selain itu, baris dalam puisi juga sering kali mengalami pelesapan, yakni penghilangan salah satu atau beberapa bentuk dalam suatu larik untuk mencapai kepadatan dan keefektifan bahasa. Selain itu, struktur kalimat dalam puisi sebagai suatu baris, tidak selamanya sama dengan struktur kalimat dalam karya prosa.
Sebagai salah satu elemen puisi, keberadaan larik di dalamnya tidak dapat di lepaskan antara yang satu dengan lainnya. Dengan kata lain, larik-larik dalam puisi, meskipun pada umumnya merupakan satuan yang lebih besar dari pada kata, pertalian makna antara larik yang satu dengan lainnya sangat erat. Kebertalian makna antarlarik itu antara lain juga ditunjukkan oleh adanya mekanisme bunyi dalam hubungannya dengan rima.

(d)     Bait
Satuan yang lebih besar dari larik biasa disebut dengan bait. Pengertian bait adalah kesatuan larik yang berada dalam satu kelompok dalam rangka mendukung satu kesatuan pokok pikiran terpisah dari kelompok larik (bait) lainnya. Keberadaan bait sebagai kumpulan larik tidaklah mutlak. Peranan bait dalam puisi adalah untuk membentuk suatu kesatuan makna dalam rangka mewujudkan pokok pikiran tertentu yang berbeda dengan satuan makna dalam kelompok larik lainnya. Pada sisi lain, bait juga berperanan dalam mencirikan tipografi puisi. Selain itu, bait juga beperan dalam menekankan atau mementingkan suatu gagasan serta menunjukkan adanya loncatan-loncatan gagasan yang dituangkan penyairnya.

(e)      Tipografi
Tipografi ini berkaitan dengan bentuk penulisan yang menyangkut pembaitan-enjambemen, penggunaan hutuf dan tanda baca, serta bentuk bait. Harus diakui, secara konvensiaonal yang membedakan puisi dari prosa sebagai genre sastra adalah prosa dalam bentuk narasi. Dengan demikian, penyiasatan penulisan tipogrrafi menjadi penting sebagai media atau cara untuk mengungkapkan makna.

2)        Proses Kreatif Menulis Puisi
Dalam penulisan puisi, pasti akan melewati serangkaian kegiatan kreatif yang sangat individual. Artinya, setiap individu mempunyai cara dan gaya tersendiri dalam menulis puisi. Namun, seperti yang telah dijelaskan bahwa sekalipun bersifat individual, tetapi ada generalisasi proses kreatif yang sama dalam menulis puisi yang terdiri atas empat tahap, antara lain:
(a)      Pencarian Ide
Bahan pertama dalam menulis puisi adalah ide. Ada pula yang menyebutnya inspirasi, yaitu sesuatu yang menyentuh rasa atau jiwa yang membuat seseorang ingin mengabadikan dan mengekspresikannya dalam puisi. Bahwa pencarian inspirasi tersebut bersifat aktif-kreatif. Oleh karena itu, ide atau inspirasi haruslah dipanggil, dicari, dan diburu dengan cara menyensitifkan pancaindera kita dalam memaknai setiap kejadian dan fenomena yang dijumpai di sekeliling. Dengan demikian, kepekaan pancaindera dan pemahaman diri yang baik menjadi kunci untuk bisa mendapatkan inspirasi sebagai bahan penulisan puisi.

(b)     Pengendapan atau Perenungan
Bahwa dalam puisi yang terutama adalah kata-kata, yaitu merenungka kata-kata yang tepat, diksi, puitik, dan mengandung makna yang dalam dan kompleks. Karena kunci utama puisi adalah pada konsentrasi kata sehingga aspek utama merenungkan dan mengembangkan ide adalah memilih diksi atau kata yang tepat. Dalam pengendapan itu, hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat diksi-diksi yang akan dirangkai menjadi puisi tetapi masih dalam rasa, pikiran, dan imajinasi. Bahkan, kemungkinan bisa merenungkan untuk menemukan bait pembuka atau diksi-diksi kunci sebagai pemantik untuk dikembangkan menjadi puisi.

(c)      Editing dan Revisi
Editing ini berkaitan dengan pembenaran pada puisi yang diciptakan pada aspek bahasa, baik salah ketik, pergantian kata, sampai kalimat, bahkan tata tulis, sedangkan revisi berkaitan dengan penggantian isi atau substansi. Dua hal ini pasti terjadi dalam setiap penciptaan puisi karena bisasanya seseoang menulis puisi dalam keadaan trans, semacam ketidaksadaran sehingga hasil puisi sering terjadi anakronistis dari aspek bahasa maupun isi. Oleh karena itu, editing dan revisi menjadi syarat mutlak untuk bisa menghasilkan karya puisi yang bagus.

J.        Hipotesis
Berdasarkan pada tujuan penelitian di atas, dalam penelitian ini memiliki tiga asumsi atau anggapan dasar:
1.  Gambaran keterampilan menulis puisi siswa sebelum pembelajaran dengan media gambar bergerak.
2.    Gambaran keterampilan menulis puisi siswa setelah pembelajaran dengan media gambar bergerak.
3.      Peningkatan keterampilan menulis puisi siswa dengan media gambar bergerak.

K.      Metode Penelitian
Metode yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, yaitu pre-experimental design. Bahwa pre-experimental design belum merupakan eksperimen sungguh-sungguh karena masih terdapat variabel luar yang ikut berrpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen. Penelitian eksperimen adalah metode yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. Pertimbangan mengambil metode eksperimen karena penulis bermaksud melakukan uji coba untuk mengetahui pengaruh media gambar bergerak dalam keterampilan menulis puisi serta untuk mengukur peningkatan terhadap hasil yang diperoleh siswa sebelum dan sesudah diberikan perlakuan tersebut.

L.       Desain Penelitian
Dalam metode eksperimen terdapat beberapa bentuk desain eksperimen yang dapat digunakan. Desain yang peneliti gunakan dalam penelitian ini yaitu One Group Pretest-Posttest Design dengan gambaran sebagai berikut:

R: O1      X    O2
 Keterangan:
R       : Randomisasi pengambilan sampel.
O1     : Pengumpulan data keterampilan menulis puisi sebelum menggunakan media gambar bergerak.
X      : Media gambar bergerak.
O2    : Pengumpulan data keterampilan menulis puisi setelah menggunakan media gambar bergerak.

M.     Sumber Data
1.        Populasi
Dalam penelitian ini peneliti mengambil sumber data pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Kroya. Adapun alasan tersebut karena peneliti sendiri berasal dari daerah yang sama, yaitu Kroya. Dan tidak hanya itu, bahwa SMA Negeri 1 Kroya merupakan salah satu SMA yang berada di kecamatan Kroya. Serta sekolah yang kerap tidak asing dengan dunia seni. Maka dengan ini, peneliti ingin mencoba melakukan penelitian di SMA tersebut.

2.        Sampel
Sampel diambil dengan cara random sampling, yaitu pengambilan sampel dilakukan secara acak. Adapun sampel yang akan diambil hanya satu kelas.
  
N.      Teknik Pengumpulan Data
Tes yang peneliti gunakan yaitu berupa tes uraian. Teknik tes yang dimaksud dalam hal ini adalah teknik tes dengan melakukan pretes dan postes pada siswa. Hasil kegiatan pretes dan postes siswa dalam keterampilan menulis puisi, peneliti analisis dengan tujuan untuk mengukur kemampuan awal yang dimiliki siswa sebelum kegiatan pembelajaran dan setelah pembelajaran. Skor pretes dan postes dilakukan untuk mengukur peningkatan keterampilan menulis puisi menggunakan media gambar bergerak.
Berikut ini adalah langkah-langkah pengumpulan data dalam penelitian ini, yaitu:
1.        melakukan randomisasi untuk mennetukan kelompok percobaan/ekperimen (R);
2.        mengumpulkan data (Observasi) sebelum perlakuan (Pre);
3.        memberikan perlakuan/treatmen;
4.        mengumpulkan data (Observasi) setelah perlakuan (Post);
5.        mengorganisasikan dan menganalisis data hasil observasi; dan
6.        menguji/mengasumsikan persyaratan analisis statistik parametrik.

O.      Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data berarti instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data-data yang diperlukan, yang dalam hal ini untuk mengetahui peningkatan keterampilan menulis puisi siswa sebelum dan setelah diberikan perlakuan. Oleh karena tes yang dilakukan berupa tes tertulis, maka dalam hal ini penelliti menggunakan uji coba dengan menuliskan perintah tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. Perintah tugas pertama yaitu pretes, dimana siswa diminta untuk membuat sebuah puisi sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Untuk langkah selanjutnya yaitu postes, dimana siswa diminta untuk memperhatikan tontonan yang diputar oleh guru, selanjutnya siswa mendeskripsikan apa yang mereka lihat tersebut. Barulah siswa diminta untuk membuat puisi sesuai dengan pendeskripsiannya.
Berikut ini meruapakan tabel kriterian penilaian dalam instrumen tersebut, yaitu:
No.
Nama Siswa
Aspek Penilaian Menulis Puisi
Nilai
Bait
Irama
Rima
Isi













DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, Senny Suzanna, dan A Chaedar Alwasilah. 2013. Pokoknya Menulis. Bandung: PT Kiblat Buku Utama.


Aminuddin. 2013. Pengantar Apesiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.


Arsyad, Azhar. 2014. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.


Gani, Erizal. 2014. Kiat Pembacaan Puisi: Teori dan Terapan. Bandung: Pustaka Reka Cipta.
Hidayat, Arif. 2009. “Pembelajaran Sastra di Sekolah” dalam jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan. Vol. 14, No. 2, Hal. 1-6.


Ismawati, Esti. 2013. Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Penerbit Ombak Anggota IKAPI.


Kurniawan, Heru, dan Sutardi. 2012. Penulisan Sastra Kreatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.


Mulyasa. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.


Nurgiyantoro, Burhan.2010.Teori Pengkajian Prosa Fiksi.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.


Nurgiyantoro, Burhan. 2015. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE.


Pradopo, Djoko Rachmat. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.


Sarumpat, Toha. 2002. Sastra Masuk Sekolah. Megelang: Indonesia Tera.


Siswantoro. 2010. Metode Penelitian Sastra Analisis Struktur Puisi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Tarigan, Henry Guntur. 2008. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar